Ustadz Adi Hidayat : Corona, Iman, dan Imunitas Kita

Loading...
Loading...


Wabah corona akhirnya masuk Indonesia, bahkan kini terasa seperti sedang menunggu di depan jendela rumah kita. Ketika jendela terbuka maka ia akan menyerang dan menjangkiti kita beserta seisi rumah kita. Kelakar Mahfud MD soal birokrasi Indonesia yang berbelit akan mencegah corona masuk Indonesia, atau guyonan Budi Karya soal nasi kucing membuat tubuh kita tak mudah terserang corona, nyatanya tak terjadi, bahkan nama terakhir malah menjadi menteri pertama yang dinyatakan positif terinfeksi corona atau Covid – 19.

Ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengumumkan bahwa corona mulai menyerang Indonesia pada akhir bulan lalu. Muncul beragam reaksi dari masyarakat. Ada yang panik lantas melakukan panic buying, memborong masker, hand sanitizer, dan kebutuhan pokok. Imbasnya bisa ditebak, terjadi kelangkaan.

Kondisi tersebut lantas dimanfaatkan oleh sebagian penjual untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Masker dan hand sanitizer dijual dengan harga tak masuk akal. Atas nama rumus ekonomi supply-demand, mereka mengabaikan etika, moralitas, kepantasan, dan tentunya azab Tuhan.

Lalu ada pula kelompok masyarakat yang tak panik namun terlalu pasrah. Mereka menganggap keselamatan dan kematian sudah digariskan oleh Allah SWT. Jadi untuk apa capek-capek memperkuat imunitas tubuh dan melawan wabah corona. Kalau memang sudah digariskan mati karena corona ya sudah terima saja. Toh, banyak yang pakai masker tapi tetap terjangkit juga.

Sialnya, kepasrahan mereka terkadang berujung pada kepongahan. Himbauan dari pihak berwenang diabaikan, fatwa ulama dipandang sebelah mata, dan nasehat sahabat dianggap angin lalu. Akibatnya, banyak hikmah, pelajaran serta renungan kehidupan yang terlewatkan.

Ironis memang, ketika wabah corona justru memunculkan dengan sangat jelas potret neo qadariyah dan neo jabbariyah yang menjangkiti masyarakat muslim kita. Ketidakseimbangan pemahaman antara ikhtiar dan takdir malah menjadi warna yang dominan dalam perbincangan muslim Indonesia soal corona.

Maka di sinilah tantangan yang harus dihadapi baik oleh para ulama maupun pakar kesehatan dalam upaya menyelamatkan muslim Indonesia dari wabah corona. Mereka harus lebih berbusa-busa lagi menyampaikan bahwa menjaga dan meningkatkan imunitas adalah bagian dari ikhtiar yang harus dilakukan manusia, dan hal itu sama sekali tak merusak iman seseorang terhadap takdir dan ketetapan Allah SWT.

LihatTutupKomentar