Peran Alim Ulama di Tengah Wabah Corona

Loading...
Loading...

Rekaman video yang viral menjadi lucu sekaligus miris. Apa yang kita saksikan adalah pemandangan tak lazim dari masyarakat negara ‘maju’ secara ekonomi. Video itu memperlihatkan para pengunjung pusat perbelanjaan yang sedang berebut: tisu toilet. Entah apa yang memicu orang begitu histeris memperebutkan tisu toilet.

Faktanya masyarakat Barat memakai tisu toilet untuk alat pembersih setelah buang air. Tak sampai di kepala kita sebuah logika bagaimana wabah Covid-19 telah membuat orang memperebutkan tisu toilet. Tetapi liputan Vice menyebutkan mereka terpacu setelah mengetahui orang lain memborong tisu toilet. Penyakit latah ini nyatanya mampu memicu manusia bergerak dan bahkan berkelahi tanpa alasan yang masuk akal. Takut akan kehabisan barang.

Ketakutan juga memicu tindakan yang nampak absurd lainnya. Pandemi Corona memicu masyarakat di AS memborong senjata. Penjualan senjata meningkat tajam sejak kemunculan pandemi ini. Ternyata situasinya berbeda dengan tisu toilet. Penjualan senjata didominasi masyarakat Asia di Amerika Serikat. Mereka khawatir apabila terjadi lockdown akan tercipta kerusuhan rasial.

Ketakutan pula yang memicu kepanikan di tanah air. Masyarakat berbondong-bondong memborong bahan pokok termasuk mie instan. Ketakutan akan terjadi kelangkaan barang akibat panik pandemic Covid-19 mendorong masyarakat kita bukan saja memborong barang kebutuhan pokok, tetapi juga masker dan cairan antiseptik.
Harga masker dan cairan anti septik yang melambung tinggi tak membuat masyrakat menahan diri. Mungkin di saat seperti ini kita bisa menyaksikan harga satu kotak masker bisa lebih tinggi daripada sekarung beras. Tetapi kenyataan memang demikian.
Virus Corona menciptakan kepanikan massal di tengah masyarakat.
Setelah pemerintah sibuk dengan politik kosmetik penyangkalan, alih-alih menenangkan masyarakat, rasa tak puas dengan penjelasan pemerintah justru memicu satu persoalan baru: Masyarakat mencari jalan keluarnya masing-masing. Terlebih ketika isu ini kemudian  menggelinding lebih kencang kepada isu ‘lockdown.’
Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, menuliskan dengan baik fenomena ini yang membuka borok kesenjangan kekayaan di masyarakat kita: masyarakat kelas bawah-lah yang akan paling terpukul akibat kebijakan lockdown. 

Menurutnya, “siapa yang sanggup membeli harga masker di situs belanja ketika menembus Rp1 juta per boks? Hanya golongan menengah atas yang sanggup. Sementara mereka yang masuk golongan menengah ke bawah harus siap-siap mengencangkan ikat pinggang. Ketika kelas atas melakukan panic buying, masyarakat miskin sebaliknya tidak tahu besoknya mau makan apa.”

Situasi lockdown menurut Bhima akan merupakan ‘neraka’ bagi masyarakat kelas bawah. Kerentanan ini akan memperlebar jurang  ketimpangan yang selama ini masih terjadi. Kondisi terjepit bukan tidak mungkin akan memicu konflik horizontal.

Kepanikan masyarakat yang dibakar semakin panas di media sosial pada dasarnya didorong oleh rasa takut. Psikologi masyarakat yang panik ini terjadi di berbagai belahan di dunia. Dominique Brossard, profesor dari Department of Life Science, UW-

Madison menyebutkan manusia takut pada hal yang tak diketahuinya.
Ketika kita tahu sesuatu terjadi di luar kendali kita, atau melihat ketidakpastian, maka kita melakukan hal yang cenderung negatif. Orang-orang bereaksi seperti yang mereka bayangkan. Kondisi ini yang menciptakan histeria massal seperti yang terjadi saat ini. 

Brossard juga menekankan bahwa mempercayai bukti ilmiah adalah hal yang penting.
Di sinilah kita menemukan tembok besar yang ada di masyarakat termasuk umat Islam di Indonesia. Persoalan wabah tak dilihat sebagai persoalan yang melibatkan hal yang ilmiah. Ribuan orang yang berencana berkumpul dalam Ijtima Ulama di Gowa, 

Sulawesi Selatan menganggap persoalan pandemi Covid-19 sebagai persoalan enteng yang tak perlu ditimbang secara ilmiah. Penjelasan ilmiah tak sejalan dengan pandangan ajaran Islam. Meski acara ini akhirnya batal, namun kita melihat satu fenomena yang memprihatinkan: Agama Islam tak bisa sejalan dengan sains.

Di sisi lain kita juga melihat fenomena di media sosial, ketika warganet melihat persoalan virus tak ada sangkut pautnya dengan agama. Ketetapan Allah SWT disingkirkan dari persoalan ini dan dilihat  semata dari kacamata sains (secular). 

Pandangan sekularistik ini juga main-main. Telah marak tahun-tahun belakangan ketika bencana alam tak lain hanyalah gejala alam belaka.

Pandemi Covid-19 memang hal yang sepantasnya menimbang pendapat ilmiah dari para pakar medis. Tetapi bukan berarti ulama kehilangan perannya. Justru ketika kita melihat fenomena pemimpin yang tak sigap, kepanikan di masyarakat, cara pandang beragama yang menafikan sains atau cara pandang alam yang menafikan agama, disitulah ulama sebenarnya sangat dibutuhkan.

LihatTutupKomentar