Penanganan Corona Memang Santuy, Tapi Pemerintah Sama Sekali Tidak Salah

Loading...
Loading...

Santuy, itulah kata yang pantas disematkan kepada pemerintah dalam menangani wabah corona yang hari ini (29/03/2020) kasusnya telah menembus angka seribu. Atau paling tidak, itulah yang bisa kita simpulkan dari kritikan yang disampaikan oleh para oposan terkhusus Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.

Better late than never,” begitu komentar Netty Prasetiyani ketika Jokowi memutuskan menunjuk Achmad Yurianto sebagai Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19. Politisi PKS yang juga istri mantan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan tersebut menilai ada keterlambatan manajemen edukasi dan komunikasi dari pemerintah dalam menangani masuknya virus corona di Indonesia.

Bagaimana tidak, sejak persentuhan pertama Indonesia dengan corona tepatnya di Natuna. Sudah menimbulkan kerusuhan. Ratusan warga berunjuk rasa dan memblokir jalan menolak daerah mereka menjadi lokasi evakuasi dan karantina bagi 238 WNI dari Wuhan, China. Hal ini bisa dimaklumi, ketika yang tertanam di benak warga hanyalah gambar orang-orang yang tewas berjatuhan di jalanan Wuhan namun pemerintah malah mendatangkan “paket” dari Wuhan tanpa komunikasi dan edukasi sedikitpun.

Tanpa komunikasi? Tanpa edukasi? Jawabannya iya, setidaknya berdasarkan pengakuan para “penguasa” Natuna. Ketua DPRD Natuna, Andes Putra mengaku ketika masyarakat sudah mulai resah dengan kabar yang beredar di media sosial tentang penunjukan Natuna sebagai tempat karantina WNI dari Wuhan, dirinya belum mengetahui apapun terkait hal itu. Bahkan Andes mengakui hingga hari kedatangan, dirinya tak mendapatkan informasi lengkap dari Menkes yang sudah di Natuna sehari sebelumnya.

Selain Andes, pihak eksekutif juga mengaku mengalami hal serupa. Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti mengaku jika dirinya mendapat informasi terkait penunjukan Natuna sebagai lokasi karantina malah dari televisi dan medsos.

Kerusuhan di Natuna pada saat itu dinilai oleh Romanus Ndau, Komisioner Komisi Informasi Pusat sebagai bentuk korupsi informasi. Berbicara dalam forum ILC tvOne yang bertajuk “Corona Mengguncang Dunia, Amankah Indonesia?” pada Selasa (04/02/2020), Ndau menilai pemerintah telah menyalahi UU No 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi, dimana UU tersebut mempunyai relevansi yang kuat dengan mencerdaskan masyarakat, mencerdaskan bangsa.

Pemerintah, lanjut Ndau, telah mengabaikan apa yang dinamakan informasi serta merta. Informasi serta merta, mengandung dua makna, yang pertama adalah informasi tersebut terkait dengan hajat hidup orang banyak, yang tentunya harus disampaikan secara cepat. Lalu yang kedua adalah informasi yang berpotensi mendatangkan kerugian yang sangat besar kalau terlambat diumumkan.

Ndau bahkan menegaskan bahwa akar dari seluruh kejahatan sebuah bangsa itu adalah korupsi informasi, korupsi informasi itu adalah memanipulasi informasi, menyalahgunakan informasi, dan menutup-nutupi informasi.

Keterlambatan komunikasi dan edukasi nyatanya berlanjut. Alih-alih menjadikan rusuh 
Natuna sebagai pembelajaran, pemerintah malah semakin santuy bahkan terkesan meremehkan persoalan. Di saat WHO memutuskan corona sebagai darurat global, pejabat kita malah sempet-sempetnya guyon.

Sebut saja Mahfud MD, sempat memposting lelucon di akun twitternya. Dalam cuitan itu, ia menyebut bahwa 234 WNI yang pulang dari Wuhan dinyatakan bebas Corona. Menkopolhukam pun mengutip guyonan Menko Perekonomian Airlangga yang mengatakan bahwa, karena perizinan di Indonesia berbelit-belit, maka virus corona tak bisa masuk.

Begitupun Menhub Budi Karya, pada 17 Februari lalu, ia berkelakar bahwa corona tidak akan masuk ke Indonesia karena masyarakat Indonesia sering makan nasi kucing. Sialnya, Budi Karya malah jadi menteri pertama yang positif corona.

Saat corona sudah merebak, keamburadulan (baca: santuy) masih saja berlanjut. Edukasi yang terlambat kadung membuat panic buying menjadi trend dan melonjaknya harga kebutuhan menjadi passion para pedagang. Dan lagi-lagi statemen bernada guyonan dihadirkan, kali ini disampaikan langsung oleh Pak Jokowi. Saat beliau dan istri selesai melakukan tes virus corona, ia mengatakan, “hasilnya tanya yang ngetes”.

Singkat cerita guyonan dan ke-santuy-an pun berlanjut. Beda pernyataan antar pejabat terkait satu objek yang sama, kurangnya peralatan medis yang berujung terenggutnya nyawa tenaga medis, dan jangan lupakan rencana pemerintah membuka rekening donasi untuk masyarakat.

Tindak tanduk pemerintah hingga hari ini, membuat siapapun bisa menyimpulkan apa yang disampaikan Ndau memang benar adanya. Namun marilah kita tak perlu mendadak seriyes, sadarilah bahwa berpikir terlalu berat bukan passion kita.

Sebelum mengata-ngatai pemerintah, apalagi menuduhnya melakukan kejahatan. Marilah kita berkaca diri, marilah kita berkontemplasi sejenak, menemukan hakikat siapa diri kita. Mari kita renungi dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, hasilnya santuy adalah kita dan kita adalah santuy.

Santuy yang mempunyai istilah ilmiah prokrastinasi diakui atau tidak sudah lama menjadi penyakit kronis masyarakat kita. Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Dr. Bagus Siaputra, S.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, ada kaitan antara kebiasaan menunda-nunda pekerjaan di Indonesia ini dengan budaya yang berlaku.

Bagus mencontohkan, pada masyarakat Jawa ada filosofi alon-alon maton kelakon (biar lambat asalkan pekerjaannya selesai), namun disalahpersepsikan jadi alon-alon waton kelakon (lambat dan asal selesai). Dan sialnya, mispersepsi tersebut malah dipandang sebagai kebenaran yang harus ditempuh.

Maka sekali lagi, mari berhenti sejenak mengkritik pemerintah. Meskipun kritik atas penyelenggara negara adalah bentuk sumbangan warga negara kepada negara. Dan kritik adalah cara menunjukkan kelemahan kebijakan dan program negara agar segera diperbaiki.

Namun apabila anda percaya bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya -terlebih bagi anda yang tahun lalu ikut mencoblos gambarnya- maka inilah saatnya anda menuai. Anda tak bisa menuntut lebih dari para pemimpin anda selama perilaku anda pun masih sama dengan mereka. Anda tak bisa menuntut mereka gerak cepat, selama anda pun masih santuy dalam menjalani keseharian.

Maka dari itu, marilah kita mulai dari diri kita masing-masing, melakukan perbaikan diri, menjadi manusia yang lebih tanggap terhadap segala persoalan, terlebih ancaman.
Cukuplah keamburadulan kita menghadapi wabah corona ini menjadi pelajaran agar kita lebih siap lagi ketika wabah kembali menyerang.

Para ahli telah menyatakan bahwa siklus wabah penyakit menular terjadi setiap seratus tahun, dan waktu seratus tahun lebih dari cukup untuk menghapus sebuah kebiasaan buruk yang tertanam kuat di masyarakat.
Eh tapi sebentar-sebentar, seratus tahun ya, beneran seratus tahun kan. Santuy…

LihatTutupKomentar