Lika-liku Pemuda Tuna Netra Berjualan Kerupuk Cimahi-Bandung, Ini Caranya Melihat Uang

Loading...
Loading...

Keterbatasan bukanlah hambatan bagi seseorang untuk menggapai impian, pemuda tunanetra ini rela berjalan puluhan kilometer berjualan kerupuk gurilem.

Pemuda tersebut bernama Elwanggi (24). Elwanggi sudah dari lahir harus kehilangan penglihatannya tersebut.

Elwanggi tampak beristirahat sambil duduk di trotoar tepatnya Jalan Pesantren Kota Cimahi, yang tak jauh dari gedung Pemkot Cimahi.

Bukan hanya sekedar beristirahat dan diam, Elwanggi juga menanti pembeli yang datang menghampirinya.

Wajahnya nampak sumringah ketika ada seorang bapak-bapak yang turun dari motor dan menghampirinya memborong 10 bungkus kerupuk gurilemnya tersebut.

Sekilas fisik Elwanggi normal, namun ketika dia memberikan uang kembalian kepada pembeli, nampak tangannya mendekatkan uang yang dia pegang ke mukanya.

Dengan cermat, uang itu dia dekatkan ke mata kirinya.

Mata kiri Elwanggi memang masih bisa melihat meski sangat minim.

Uang yang dia terima harus didekatkan ke mata kirinya sampai jarak sekitar 3 cm.

Barulah dia tahu berapa nominal uang yang diserahkannya.

Dia mengaku hanya melihat sedikit cahaya dari mata kirinya.

Selain itu, dia juga meraba uang yang diberikan.

Saat memberikan kembalian, Elwanggi juga mendekatkan beberapa uang ke mata kirinya sebelum menyerahkan ke pembeli.

Elwanggi kepada Tribun Jabar mengaku, sudah satu tahun berdagang kerupuk gurilem di Kota Cimahi hingga Kota Bandung sambil berjalan kaki.

"Jualan (kerupuk gurilem) dari tahun 2018. Ingin membuktikan ke masyarakat umum, bahwa disabilitas khususnya tunanetra banyak yang beranggapan hanya bisa itu-itu saja, membuktikan ke masyarakat saya bisa hidup (mandiri)," ujar Elwanggi

Pemuda asal Bekasi ini, mengaku hijrah ke Kota Cimahi sejak tahun 2018 namun dirinya sudah dari tahun 2000 menetap di Lembang, KBB bersama ibunya dan kedua saudaranya.

Elwanggi menceritakan alasannya pindah dari Bekasi ke Lembang karena ikut dengan ibunya yang dari kala itu berpisah dengan ayahnya.

Seiring berjalannya Elwanggi yang sempat bersekolah di SLB A hingga kelas enam ini memutuskan untuk hidup mendiri di tahun 2018 dengan berjualan sambil mengontrak satu ruang kamar di Kota Cimahi.

"Enggak diterusin sekolah, terakhir sampai kelas enam SD di SLB lembang. Sekarang sambil berjualan kerupuk ini saya ngekos di Jalan Pesantren Dalam, Kota Cimahi," ujarnya

Hasil dari berdagang kerupuk gurilem ini, Elwanggi menjelaskan keuntungannya sebagian ditabung untuk masa depannya dan sebagian lagi diberikan kepada ibunya.

"Dari hasil jualan uangnya ditabung buat masa depan, sisanya buat sehari hari kaya bayar kosan," ujarnya.(*)


LihatTutupKomentar