Kisah Sedih Eva Rahmi Salama: Ayah-Ibu Mati Karena Corona, Kini Adik Positif Semua Berawal di Pesta

Loading...
Loading...

Kisah memilukan seorang wanita kuat; Eva Rahmi Salama membuat suasana Mata Najwa yang dipandu Najwa Shihab Rabu (25/3/2020) tadi malam sangat haru.

Kini adik Eva Rahmi Salama pun positif Corona.
Semua kisah pilu keluarganya bermula dari pesta.

Anak dari korban meninggal Virus Corona, Eva Rahmi Salama mengungkap kesaksiannya.
Hal itu diungkapkan Eva Rahmi Salama melalui sambungan telepon acara Mata Najwa pada Rabu (26/3/2020).

Kedua orang tua Eva Rahmi Salama meninggal akibat Virus Corona hanya selang dua hari.
Mulanya, Najwa Shihab sebagai presenter bertanya soal viralnya foto Eva Rahmi Salama yang menunjukkan dirinya berdiri bertiga saat pemakaman orang tuanya.

"Mbak Eva status atau postingan Anda di media sosial ketika Anda memposting foto di pemakaman yang hanya berdiri bertiga dengan keluarga dan Anda menyebutkan sangat berat rasanya memakamkan orang yang Anda cintai tetapi tidak bisa berdoa bersama-sama keluarga besar," tanya Najwa Shihab.

Eva menjawab, dirinya memang sengaja meminta untuk keluarga besar maupun teman-temannya datang melayat.

Ia takut jika orang lain terpapar Virus Corona akibat ikut melayat.
"Iya jadi sebenarnya saya melarang saudara-saudara saya dan teman-teman saya pada acara pemakaman Mamah karena saya khawatir mereka jadi tertular juga gitu."
"Dan jadi tanggung jawab saya kalau sampai ada yang tertular gitu," ujar Eva.
Lantas, Eva mengungkapkan kondisi saat pemakaman ibunya.

Di sana tak ada petugas medis yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), yang ada hanya tujuh tukang gali kubur dengan alat perlindungan seadanya.

Sehingga, Eva mengaku khawatir jika tukang gali kubur itu ikut tertular.
"Dan pas pada saat sampai di pemakaman, saya pikir ada petugas yang memakai baju APD ternyata tidak, hanya tukang gali kubur berapa orang tujuh orang kalau enggak salah."

"Mereka cuma makai baju apa adanya terus sama pakai tutupan mulut terus pakai sarung tangan itu saja, makanya saya takutnya mudah-mudahan mereka tidak terpapar," cerita Eva.

Eva mengatakan dirinya khawatir meski jenazah Ibunya sudah dimasukkan ke dalam peti dan dilapisi dengan plastik.

"Meskipun itu jenazah Mama sudah dimasukkin ke dalam peti, direp lagi ama plastik gitu kan, tapi ya makanya itu langsung dikubur, enggak lama dari jam kematian," ujarnya.

Saat ditanya apakah jenazah ayahnya juga dimakamkan dengan cara yang sama, Eva mengaku tak tahu.
Namun, Eva menyayangkan bahwa ayahnya dimakamkan terlambat.

Padahal sepengetahuannya, jenazah Virus Corona harus segera dikubur maksimal empat jam.
"Enggak, kalau untuk Papah itu meninggal setengah empat tapi dikuburnya jam 7 (keesokan) paginya jadi sebenarnya itu sangat berisiko kan maksimal 4 jam itu harus dikubur tapi kenyataanya baru besoknya," kata Eva.

Selain itu, Eva mengaku juga sempat tak mendapat kejelasan terkait kematian ayahnya.
"Dan saya juga enggak tahu awalnya, di mana papa saya akan dikuburkan mereka enggak tahu, dan mereka bilang itu akan dihubungi dari pihak Dinkes."

"Maka dari itu naruhnya di ruang jenazah dan saya tidak boleh mendekat karena potensi untuk terpapar kan mereka masih rapping petinya juga," cerita Eva.

Dengan menangis, Eva mengatakan dirinya sangat sedih lantaran tak bisa melihat orang tuanya di saat-saat terakhir.

"Ya makanya itu saya ngerasa enggak bisa ngapa-ngapain, enggak bisa lihat muka mamah terakhir, muka papa terakhir," sesalnya.

Eva Rahmi Salama kehilangan ibu dan ayahnya yang meninggal akibat COVID-19.
Adik Eva juga positif COVID-19, diduga masuk kluster acara pesta dansa di Kemang, Jakarta Selatan.
Eva sendiri sudah tes, namun belum tahu hasilnya.

Itu pun dia bisa tes setelah menunggu lama.
Begitu lamanya hasil tes swab keluar disayangkan Eva.
"Yang saya sayangkan kenapa hasil swab test itu butuh waktu lama banget, jadi tahunya positif atau enggak membutuhkan waktu yang lama. Jadi lama untuk menjalankan treatmentnya dan isolasinya," kata Eva.
Lihat videonya sejak menit awal:
Duka Cita Mendalam untuk Tenaga Medis yang Meninggal
Tenaga Ahli Kepala Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin turut menyampaikan duka cita pada sejumlah tenaga medis yang meninggal diduga akibat terpapar Virus Corona.

Dikabarkan sebelumnya ada enam dokter meninggal dunia saat menangani para pasien covid-19.
Hal itu diungkapkan Ali Ngabalin melalui sambungan telepon Apa Kabar Indonesia Malam TV One pada Senin (23/3/2020).

Saat menyampaikan bela sungkawa tersebut, Ali Ngabalin terdengar seperti terisak.
Mulanya, ia mengatakan bela sungkawa atas nama Pemerintahan.

"Mengawali pernyataan ini saya memohon waktu untuk Mbak Putri atas nama Kantor Staf Presiden dan nama Pemerintah, kami menyampaikan bela sungkawa yang dalam atas kepergian dokter dan beberapa tenaga medis," ujar Ali Ngabalin mulai terisak.

Lantas, Ali Ngabalin turut membeberkan reaksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika mendengar ada tenaga medis yang meninggal.

Ali Ngabalin menyebut, Jokowi menyampaikan rasa duka dengan suara yang jelas ada kesedihan di dalamnya.
Sehingga, kini ia berdoa agar tenaga medis gugur saat menangani pasien Virus Corona tak terjadi lagi.

"Terus terang tadi Bapak Presiden juga dengan suara Beliau menyampaikan rasa duka yang dalam, begitu juga dengan Kepala Staf."

"Seluruh rakyat Indonesia pasti merasakan itu dan kami menyampaikan rasa duka ini adalah bagian dari sebuah semangat kita mereka pergi dan kita akan perang melawan Corona, dan tidak boleh ada lagi yang jatuh korban," ungkap Ali Ngabalin.

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa kini empat dari 10 tower di Wisma Atlet siap digunakan untuk merawat para pasien Virus Corona.

"Yang kedua, seperti kita ketahui bahwa 10 tower yang sedang disiapkan itu empat di antaranya sudah siap pakai dan tadi juga dilaporkan Bapak Presiden bahwa ada beberapa pasien yang juga mempersiapkan diri untuk mendapatkan pelayanan," jelasnya.

Selain tower bagi para pasien, tower juga disediakan bagi para tenaga kesehatan hingga bagi Gugus Tugas Penanggulangan Virus Corona, yang dipimpin oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo.

"Di samping itu tower-tower itu juga, ada tower bagi petugas kesehatan, tower bagi bapak ibu yang setiap saat akan mengawal peperangan dalam tanda petik, kita ini yaitu dari Badan Penanggulangan Bencana Letnan 

Jenderal Doni Monardo yang kita tahu tak pernah gagal dalam tugasya kita doakan semoga Gugus Tugas akan kuat," pungkasnya.(*)

LihatTutupKomentar